Polemik Larangan GPS, Ini Tanggapan Pengamat Otomotif
2018-03-13 04:02:40

DEPOK, iNews.id - Polemik larangan penggunaan Global Positioning System (GPS) hingga kini masih menuai pro dan kontra. Petugas khawatir penggunaan GPS di jalan menganggu konsentrasi pengemudi dan berisiko membahayakan pengguna jalan.

Di sisi lain, Layanan GPS memiliki banyak manfaat. Selain untuk mencari lokasi tujuan, jalan alternatif, aplikasi ini juga sangat diperlukan untuk mencari fasilitas umum, seperti pom bensin, rumah makan, masjid, ATM dan lainnya. Lantas, mengapa GPS dilarang?

"Pihak kepolisian harus kembali mengkaji ulang peraturan tersebut. Karena jika dilarang banyak pengemudi yang merasa dirugikan," ujar Rudi Noviantyo, kepala divisi keselamatan Ikatan Motor Indonesia (IMI) saat dihubungi iNews.id, Senin (12/3/2018).

Dia menuturkan, selain pengendara yang dirugikan, pihak-pihak lain seperti produsen smartphone, toko-toko online dan trasnportasi online juga akan rugi. Karena sistem yang digunakan perusahaan mereka menggunakan GPS.

"Lihat saja transportasi online sekarang, pasti mengandalkan GPS, belum lagi pom-pom bensin, ATM Bank yang bekerja sama dengan pihak GPS," tambah Rudi.

Penggunaan GPS, kata Rudi, sebenarnya bisa diatur agar tidak membuyarkan konsentrasi pengemudi. Salah satunya dengan meletakkan smartphone atau GPS di dasbor dan mengaktifkan petunjuk suara.

"Dengan cara meletakkan GPS dan mengaktifkan suara penunjuk arah. Jadi, konsentrasi enggak terganggu," jelasnya.

GPS bukan hanya membantu mencari lokasi tujuan, tetapi juga kondisi lalu lintas di area yang dilewati.

"GPS sekarang juga sudah bisa menunjukkan titik macet. Ini membantu untuk perjalanan seperti di Jakarta. Tapi jangan percaya, karena kadang kan enggak sesuai. Mencari jalur tercepat malah tersasar dan terjebak macet," tandasnya.

Editor : Dani Dahwilani